• (0274) 391007, 391288
  • rsudwonosari06@gmail.com

KENALI FAKTA-FAKTA TENTANG HIV/AIDS


Setiap tahun, tepat pada tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari Aids Sedunia.

Tahun ini merupakan peringatan Hari AIDS ke-31

Hari Aids diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.


Juga sebagai dukungan untuk orang dengan HIV dan mengingat mereka yang meninggal akibat penyakit terkait HIV/AIDS.

Terkait dengan HIV/Aids, Badan Kesehatan Internasional atau WHO merilis sejumlah data dan fakta terkait dengan perkembangan HIV/Aids

Berikut fakta-fakta HIV/Aids yang dilansir dari WHO :

1. HIV terus menjadi masalah kesehatan publik global utama

Sejauh ini HIV telah merenggut lebih dari 32 juta jiwa.

Namun, dengan meningkatnya akses ke pencegahan, diagnosis, pengobatan dan perawatan HIV yang efektif, termasuk untuk infeksi oportunistik.

Infeksi HIV telah menjadi kondisi kesehatan kronis yang dapat dikelola, memungkinkan orang yang hidup dengan HIV untuk menjalani hidup yang panjang dan sehat.

2. Ada sekitar 37,9 juta orang yang hidup dengan HIV pada akhir 2018

3. Layanan meningkat

Sebagai hasil dari upaya internasional bersama untuk menanggapi HIV, cakupan layanan telah semakin meningkat. Pada 2018, 62% orang dewasa dan 54% anak yang hidup dengan HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah menerima terapi antiretroviral (ART) seumur hidup.

4. Menerima ART

Sebagian besar (82%) wanita hamil dan menyusui yang hidup dengan HIV juga menerima ART, yang tidak hanya melindungi kesehatan mereka, tetapi juga memastikan pencegahan penularan HIV ke bayi baru lahir mereka. 

5. Jumlah korban

Karena kesenjangan dalam layanan HIV, 770.000 orang meninggal karena penyebab terkait HIV pada tahun 2018 dan 1,7 juta orang baru terinfeksi.

6. Mayoritas penderita HIV

Pada tahun 2018, untuk pertama kalinya, orang-orang dari kelompok populasi kunci dan pasangan seksualnya menyumbang lebih dari setengah dari semua infeksi HIV baru secara global (diperkirakan 54%) pada tahun 2018. Untuk wilayah Eropa Timur, Asia Tengah, Timur Tengah dan Afrika Utara, kelompok-kelompok ini menyumbang sekitar 95% dari infeksi HIV baru.

Populasi kunci meliputi: pria yang berhubungan seks dengan pria; orang yang menyuntikkan narkoba; orang-orang di penjara dan pengaturan tertutup lainnya; pekerja seks dan klien mereka; dan orang-orang transgender.

7. Peningkatan kerentanan HIV

Peningkatan kerentanan HIV sering dikaitkan dengan faktor-faktor hukum dan sosial, yang meningkatkan paparan terhadap situasi risiko dan menciptakan hambatan untuk mengakses layanan pencegahan, pengujian dan pengobatan HIV yang efektif, berkualitas dan terjangkau.

8. Sebagian besar di Afrika

Lebih dari dua pertiga dari semua orang yang hidup dengan HIV tinggal di Wilayah Afrika WHO (25,7 juta). Sementara HIV lazim di antara populasi umum di wilayah ini, peningkatan jumlah infeksi baru terjadi di antara kelompok populasi utama.

9. Dapat didiagnosis

HIV dapat didiagnosis melalui tes diagnostik cepat yang dapat memberikan hasil pada hari yang sama. Ini sangat memudahkan diagnosis dan keterkaitan dengan perawatan dan perawatan.

10. Tidak ada obat untuk infeksi HIV

Namun, obat antiretroviral (ARV) yang efektif dapat mengendalikan virus dan membantu mencegah penularan ke orang lain.

11. Status
Pada akhir 2018, diperkirakan 79% orang yang hidup dengan HIV mengetahui status mereka. 62% menerima terapi antiretroviral (ART) dan 53% telah mencapai penekanan virus HIV tanpa risiko menginfeksi orang lain.

12. Pada Juni 2019, 24,5 juta orang mengakses terapi antiretroviral

13. Jumlah penurunan

Antara 2000 dan 2018, infeksi HIV baru turun 37% dan kematian terkait HIV turun 45%, dengan 13,6 juta jiwa diselamatkan karena ART. Prestasi ini adalah hasil dari upaya besar oleh program HIV nasional yang didukung oleh masyarakat sipil dan mitra pembangunan internasional.


Human immunodeficiency virus (HIV) menargetkan sistem kekebalan tubuh dan melemahkan sistem pertahanan manusia terhadap infeksi dan beberapa jenis kanker.

Ketika virus merusak dan merusak fungsi sel-sel kekebalan, individu yang terinfeksi secara bertahap menjadi imunodefisiensi. Fungsi kekebalan biasanya diukur dengan jumlah CD4

Imunodefisiensi menghasilkan peningkatan kerentanan terhadap berbagai infeksi, kanker, dan penyakit lain yang dapat dilawan oleh orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Tahap infeksi HIV yang paling lanjut adalah sindrom imunodefisiensi (AIDS), yang bisa memakan waktu 2 hingga 15 tahun untuk berkembang

Jika tidak diobati, tergantung pada individu. AIDS didefinisikan oleh perkembangan kanker tertentu, infeksi atau manifestasi klinis parah lainnya.

Sumber: (Tribunnews.com/Muhammad Nur Wahid Rizqy)


 

  • By admin
  • 03 Desember 2019
  • 17

Berita Terbaru


AYO BERGERAK, MULAI DARI DIRI SENDIRI

Masyarakat Indonesia dinilai semakin kurang bergerak, bahkan dalam 5 tahun…

RENCANA KERJASAMA PT TASPEN DENGAN RSUD WONOSARI

PT Taspen (Persero) dan  RSUD WONOSARI  akan  bekerja sama menyelenggarakan program…

KEMENKES RI KOLABORASIKAN DIPLOMASI EKONOMI SEKTOR KESEHATAN

Presiden Joko Widodo telah menegaskan bahwa salah satu prioritas nasional…

KEGIATAN RUTIN APEL PAGI SETIAP HARI SENIN RSUD WONOSARI

Kegiatan rutin apel pagi hari Senin karyawan karyawati RSUD Wonosari,…

RSUD WONOSARI TERIMA KUNJUNGAN UNIT DIKLAT RSUD WONOGIRI

Sabtu (08/12) , RSUD Wonosari menerima kunjungan  Unit Pendidikan Latihan RSUD…