INFORMASI CUTI BERSAMA

Cuti bersama RSUD Wonosari dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15  Oktober  2013. Pelayanan Rawat Jalan/Poliklinik pada tanggal 14 dan 15 Oktober 2013 libur dan buka kembali pada tanggal 16 Oktober 2013. Selama cuti bersama dan libur Hari Raya Idul Adha 1434 H,  masyarakat tetap dilayani melalui Pelayanan 24 Jam di Instalasi Rawat Darurat (IRD).

BUKU KIA UNTUK TUMBUH KEMBANG ANAK

Pemerintah melalui SK Menkes No 284/Menkes/SK/III/2004 menetapkan tentang buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sebagai alat pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil, melahirkan dan selama nifas hingga bayi yang dilahirkan berusia 5 tahun, termasuk pelayanan KB, imunisasi, gizi dan tumbuh kembang anak.

Buku KIA mempunyai beberapa manfaat yaitu untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, memegang peranan penting sebagai alat pencatatan Kesehatan Ibu dan Anak di tingkat rumah tangga yang lengkap. Selanjutnya memuat keseluruhan kondisi dan status kesehatan pada kehamilan  hingga anak berusia 5 tahun, sebagai bahan informasi dan pedoman penting bagi keluarga/ ibu, kader dan petugas kesehatan,  serta untuk memelihara kesehatan ibu selama hamil sampai melahirkan, perawatan kesehatan yang memadai bagi bayi dan balita sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

POLI VCT RSUD WONOSARI

Hasil VCT di Poli VCT RSUD Wonosari pada tahun 2012 :

Jumlah pasien yang konseling di Poli VCT RSUD Wonosari sebanyak 41 orang. Hasilnya ditemukan pasien  reaktif  (positif HIV) sebesar 15 (lima belas) orang dan sisanya  sebanyak 26  pasien non reaktif (negatif HIV). Sebaran berdasarkan jenis kelamin : 8 (delapan) laki-laki dan 7 (tujuh) perempuan. Berdasarkan usia : 3 (tiga) usia anak-anak dan 12 (dua belas) usia dewasa. Sebaran berdasarkan wilayah,  di Kecamatan Tanjungsari  : 4 orang, Semanu : 2 orang, Ponjong : 2 orang, Wonosari : 3 orang, Girisubo : 1 orang, Ngawen : 1 orang, Playen : 1 orang, dan Gedangsari : 1 orang.

Sedangkan hasil VCT  sampai dengan bulan Juli 2013 :

Jumlah pasien yang melakukan konseling sebanyak  27  orang. Hasilnya, pasien reaktif (positif HIV) sebanyak 9 pasien. Sebaran berdasarkan jenis kelamin terdiri dari 4 (empat) laki-laki dewasa dan 5 orang perempuan dewasa. Distribusi pasien berdasarkan wilayah, Kecamatan Semanu : 2 orang, Tanjungsari : 2 orang, Girisubo : 1 orang, Playen : 1 orang, Ponjong : 1 orang, Ngawen : 1 orang dan Wonosari : 1 orang.

Berdasarkan sebaran wilayah dari tahun 2012 dan 2013 pasien reaktif tidak mengalami pergeseran, sehingga  data ini bisa digunakan sebagai dasar untuk melakukan intervensi secara khusus ke wilayah-wilayah tersebut, untuk program-program pencegahan dan penanggulangannya.

 

KONSELING VCT di RSUD WONOSARI

Voluntary Conseling and Testing (VCT), merupakan metode efektif  Deteksi dan Pencegahan HIV/AIDS.  Pencegahan penyebaran infeksi dapat diupayakan melalui peningkatan akses perawatan dan dukungan pada penderita dan keluarganya. Voluntary Conseling and Testing (VCT) adalah salah satu bentuk upaya tersebut. VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV. Dalam tahapan VCT, konseling dilakukan dua kali yaitu sebelum dan sesudah tes HIV.

Pemeriksaan dini terhadap HIV/AIDS perlu dilakukan untuk segera mendapat pertolongan kesehatan sesuai kebutuhan bagi mereka yang diidentifikasi terinfeksi karena HIV/AIDS belum ditemukan obatnya, dan cara penularannya pun sangat cepat. Memulai menjalani VCT tidaklah perlu merasa takut karena konseling dalam VCT dijamin kerahasiaannya dan tes ini merupakan suatu dialog antara klien dengan petugas kesehatan yang bertujuan agar orang tersebut mampu untuk menghadapi stress dan membuat keputusan sendiri sehubungan dengan HIV/AIDS.

Konseling VCT di RSUD Wonosari buka setiap hari Senin-Sabtu, Jam 08:00 – 13.00 WIB

Pengadaan Obat Generik E-Catalog

Sesuai UU Nomor 36 tahun 2009, penetapan harga obat generik dikendalikan oleh pemerintah dan oleh karena itu tiap tahun diterbitkan ketetapan / peraturan Menteri Kesehatan terkait harga obat generik. Terakhir dilakukan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 094/Menkes/SK/II/2012 tentang Harga Obat untuk Pengadaan Pemerintah Tahun 2012 dan Nomor 092/Menkes/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Generik.

Tahun 2013 penetapan harga melalui lelang harga satuan (e-catalog obat generik), agar pengadaan obat dapat mengikuti aturan sesuai Perpres 70 tahun 2012, dan dengan harapan pengadaan akan lebih mudah dan efisien dengan tetap menjamin ketersediaan obat. Pengadaan Obat melalui e-catalog merupakan kerjasama antara Kementerian Kesehatan dan LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah). Menindaklanjuti kebijakan tersebut, RSUD Wonosari telah melaksanakan pengadaan obat generik melalui e-catalog.  Dari sisi proses pengadaannya memang lebih sederhana dan efisien. Tapi permasalahan terjadi terkait dengan ketersediaan stock obat oleh pihak Produsen/Pabrik. Pesanan yang secara serentak dari pihak Dinas Kesehatan dan RSUD seluruh Indonesia terhadap jenis obat yang sama menimbulkan keraguan apakah pabrik siap dengan kapasitas produksi serta apakah barang yang dipesan siap dikirim tepat waktu. Permasalahan ini agar bisa dijadikan bahan masukan untuk rumusan kebijakan oleh Kemenkes RI dengan LKPPP.

INA CBGs UNTUK PROGRAM JAMKESSOS

Bapel Jamkessos DIY segera akan menerapkan tarif pelayanan dengan menggunakan Indonesia Case Base Group’s (INA CBGs). Penerapan INA CBGs mengharuskan rumah sakit untuk melakukan kendali mutu, kendali biaya dan akses. Rumah Sakit dituntut efisien terhadap biaya perawatan yang diberikan kepada pasien, tanpa mengurangi mutu pelayanan. Pengelolaan rumah sakit harus efisien untuk menekan biaya perawatan agar tetap berada di bawah tarif INA CBGs. Selisih tarif itu yang akan mendatangkan keuntungan bagi rumah sakit. Jika rumah sakit tidak bisa efisien maka akan rugi terus menerus.

Dengan INA CBGs, sebagian Rumah Sakit merasa dirugikan karena besaran yang dibayarkan teralu rendah. Ketidakcocokan tarif INA CBGs bagi rumah sakit akan terus dievaluasi secara berkala untuk disesuaikan dengan kondisi ekonomi, sehingga pihak rumah sakit tidak perlu khawatir. Terlebih saat ini kita akan menghadapi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang akan berlangsung mulai tanggal 01 Januari 2014. Diharapkan dengan tarif INA CBGs ini semua pihak dapat merasakan manfaat penggunaan INA CBGs. Bagi pasien, adanya kepastian dalam pelayanan dengan prioritas pengobatan berdasarkan derajat keparahan. Bagi rumah sakit dapat meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan Rumah Sakit serta bagi Pemerintah Daerah sebagai penjamin dengan anggaran pembiayaan yang efisien, maka masyarakat luas akan lebih terjangkau.